Inspirasi dari Kuttab Al-Hayyan Sukoharjo: Ketangguhan Anak dengan Keterbatasan Fisik dalam Menghafal Al-Quran
- 9 September 2024
- Posted by: Admin IT
- Category: PPL

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah salah satu bagian penting dari perjalanan mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah. Saya Hilya Izzatin Nabila, seorang mahasiswa praktikan PPL, berkesempatan mengabdi di Kuttab Al-Hayyan, sebuah lembaga pendidikan yang berfokus pada tahfidzul Qur’an bagi anak-anak. Di tempat ini, saya tidak hanya melihat semangat belajar yang tinggi, tetapi juga menemukan inspirasi yang luar biasa dari seorang anak yang memiliki keterbatasan fisik, yaitu kebutaan.
Di Kuttab Al-Hayyan, saya bertemu dengan seorang anak yang meskipun mengalami kebutaan, ia tetap semangat menghafal Al-Qur’an. Anak ini tidak berbeda dari teman-temannya yang lain dalam hal antusiasme belajar dan semangat. Meskipun terbatas dalam penglihatan, orang tuanya tidak ragu untuk menyekolahkannya di Kuttab Al-Hayyan dan mempercayakan sepenuhnya pendidikan agamanya di sini. Mereka yakin bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi anaknya untuk mencapai cita-citanya sebagai seorang hafidz.

Hal yang menarik lainnya adalah di Kuttab Al-Hayyan juga terdapat seorang guru yang memiliki keterbatasan serupa, yaitu kebutaan. Guru tersebut dengan sabar dan penuh ketekunan mendampingi anak-anak dalam proses menghafal Al-Qur’an. Ia menjadi teladan nyata bagi murid-muridnya, termasuk bagi anak yang buta tersebut. Mereka menggunakan Al-Qur’an braille sebagai media utama dalam proses hafalan. Dengan metode ini, meskipun tidak bisa melihat, mereka tetap dapat membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan lancar.
Dari pengalaman ini, saya banyak belajar tentang ketangguhan, semangat, dan optimisme. Anak dan guru dengan keterbatasan fisik ini mengajarkan saya bahwa dalam keterbatasan, tetap ada jalan untuk meraih impian dan cita-cita. Keteguhan hati dan dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk guru dan keluarga, menjadi kunci dalam menghadapi setiap tantangan.

Selain kegiatan utama menghafal Al-Qur’an, Kuttab Al-Hayyan juga menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang tidak kalah menarik. Anak-anak diajak untuk mengikuti kegiatan memanah dan berkuda yang diadakan secara rutin. Setiap sebulan sekali, para siswa diberikan kesempatan untuk mencoba dan mengasah keterampilan ini. Meskipun awalnya terlihat sulit, banyak anak yang akhirnya berani dan mahir dalam memanah dan berkuda. Kegiatan-kegiatan ini bukan hanya bertujuan untuk mengembangkan keterampilan fisik, tetapi juga melatih fokus, ketangguhan, dan keberanian anak-anak.
Salah satu momen yang paling ditunggu oleh para siswa adalah tasmi’ 5 juz, di mana anak-anak diberi kesempatan untuk menyetorkan hafalan mereka di hadapan teman-teman dan para guru. Ini bukan hanya ajang untuk menampilkan hasil hafalan, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun rasa percaya diri. Setiap anak yang berani tampil dan menyetorkan hafalannya mendapatkan apresiasi, baik dari teman-teman maupun dari para guru. Hal ini semakin memperkuat motivasi mereka untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Kuttab Al-Hayyan menjadi bukti bahwa pendidikan agama dan karakter dapat diterapkan dengan penuh cinta dan kesabaran, bahkan bagi anak-anak dengan keterbatasan fisik. Kisah anak buta yang tetap semangat menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan guru yang juga memiliki keterbatasan serupa, memberikan pelajaran berharga tentang keteguhan hati dan semangat pantang menyerah. Dari Kuttab Al-Hayyan, saya belajar bahwa dalam keterbatasan, ada kekuatan besar yang dapat menggerakkan dan membimbing menuju pencapaian yang luar biasa.
Sebagai mahasiswa praktikan, pengalaman ini sangat mengesankan dan memberikan perspektif baru tentang dunia pendidikan yang inklusif dan penuh kasih sayang. Melihat semangat anak-anak dan dedikasi para guru di Kuttab Al-Hayyan mengajarkan saya bahwa setiap individu, tanpa memandang keterbatasannya, memiliki potensi besar untuk berkontribusi dan mencapai hal-hal hebat dalam hidup. Semoga lebih banyak lembaga pendidikan yang bisa menginspirasi dan mendukung anak-anak dalam mengejar impian mereka, seperti yang dilakukan oleh Kuttab Al-Hayyan.

Saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ustadz Dr. Ariefin Badres, M.Pd sebagai dosen pembimbing saya, yang telah memberikan bimbingan, dukungan, dan arahan selama proses PPL ini. Bimbingan beliau sangat berarti bagi saya, khususnya dalam memahami makna pengabdian di dunia pendidikan.
Tidak lupa, saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak kampus STIM Surakarta, yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas yang mendukung pelaksanaan PPL ini. Dukungan dari kampus dan tim yang solid menjadi salah satu faktor penting keberhasilan dalam program ini. Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk masa depan saya sebagai pendidik yang lebih baik.