Home / UNIVERSITAS / SEMINAR / Focused Group Discussion (FGD), ”Moderasi Keberagamaan dan Integrasi Kebangsaan”

Focused Group Discussion (FGD), ”Moderasi Keberagamaan dan Integrasi Kebangsaan”

STIM Surakarta hari ini (Rabu, 5 januari 2022) bekerjasama dengan Griya Riset Malang Raya (GARIS MAYA) telah sukses melaksanakan kegiatan Focused Group Discussion(FGD), dengan mengangkat tema” Moderasi Keberagamaan dan Integrasi Kebangsaan”. Griya Riset Malang Raya adalah lembaga penelitian independen yang diketuai oleh Dr. Sakban Rosidi, M.Si., lembaga ini tengah melakukan proses penelitian tentang pentingnya moderasi dalam beragama di bumi nusantara ini. Acara diawali dengan kata sambutan yang disampaikan oleh ketua STIM Surakarta Ustadz Sudarmadi, M.Ud., dalam kata sambutannya beliau menyampaikan bahwa STIM Surakarta dan jajarannya sangat mengapresiasi acara ini, dan mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Griya Riset Malang Raya yang telah mempercayakan STIM Surakarta sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan acara ini, sekaligus mengenalkan STIM surakarta berikut prestasi-prestasi yang telah didapat semenjak berdirinya kepada seluruh hadirin dari kalangan peneliti, akademisi dan pejabat kemenag. Dan tak lupa pula beliau menyampaikan harapan baik atau pun cita-cita kedepan, diantaranya adalah rencana pembukaan tiga Prodi baru yang saat ini sedang dalam proses pengajuan ke pihak yang terkait, hingga STIM Surakarta ini kedepannya menjadi salah satu universitas islam terbaik di dunia. Setelah kata sambutan dari ketua STIM Surakarta, dilanjutkan pemberian kata sambutan dari ketua yayasan YPIA, Ustadz Drs. Farid Ma’ruf,

dalam kata sambutannya beliau menyampaikan sekaligus meluruskan berita miring tentang Pondok pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki yang mengatakan bahwa Ponpes tersebut tempat radikalisasi dan semisalnya, dan beliau menyambut hangat acara penting ini, dari sini beliau berharap agar kedepannya penilaian masyarakat atau pun negara tentang Ponpes Al-Mukmin Ngruki tidak buruk sebagaimana yang diberitakan oleh pihak-pihak tertentu.

Tema yang didiskusikan dalam acara ini berawal dari pembahasan kata “moderasi” yang memiliki korelasi dengan beberapa istilah. Dalam bahasa Inggris, kata “moderasi” berasal dari kata moderation, yang berarti sikap sedang, sikap tidak berlebih-lebihan. Juga terdapat kata moderator, yang berarti ketua (of meeting), pelerai, penengah (of dispute). Kata moderation berasal dari bahasa Latin moderatio, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “moderasi” berarti penghidaran kekerasan atau penghindaran keekstreman. Kata ini adalah serapan dari kata “moderat”, yang berarti sikap selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem, dan kecenderungan ke arah jalan tengah. Sedangkan kata “moderator” berarti orang yang bertindak sebagai penengah (hakim, wasit, dan sebagainya), pemimpin sidang (rapat, diskusi) yang menjadi pengarah pada acara pembicaraan atau pendiskusian masalah, alat pada mesin yang mengatur atau mengontrol aliran bahan bakar atau sumber tenaga.  

Jadi, ketika kata “moderasi” disandingkan dengan kata “beragama”, menjadi “moderasi beragama”, maka istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama. Gabungan kedua kata itu menunjuk kepada sikap dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip untuk selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem (radikalisme) dan selalu mencari jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa Indonesia.

Sikap moderat dan moderasi adalah suatu sikap dewasa yang baik dan yang sangat dibutuhkan saat ini, terlebih di zaman yang mana perilaku radikalisasi dan radikalisme, kekerasan dan kejahatan, termasuk ujaran kebencian/caci maki dan hoaks sudah hampir merebak di mana-mana, bahkan segala macam bentuk perilaku-perilaku tersebut dilakukan atas nama agama. Radikalisasi dan radikalisme adalah perilaku kekanak-kanakan, dan sangat berpotensi memecah belah bangsa, merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Acara ini digelar dalam bentuk diskusi dan saling menyampaikan pendapatnya tentang moderasi keberagamaan, mulai dari ketua YPIA, kemudian salah satu dosen STIM Surakarta Ustadz Sutino, M.Pd. lalu disambung oleh Kakanwil Solo raya bapak Musta’in. Acara telah berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dan paripurna dengan lancar dan tidak ada kendala satu apa pun.

Dengan berlalunya acara ini tentunya pihak-pihak yang terkait semakin jelas dan gamblang dalam memahami moderasi, dan mampu membentengi diri maupun lembaga dari perilaku radikalisasi dan ekstrem lainnya, di satu sisi juga sensitif dan peka dari pengaruh-pengaruh buruk seperti kampanye LGBT dan lainnya, karena moderasi adalah sikap berada di pertengahan, di antara terlalu keras dan terlalu lemah dalam menyikapi suatu peristiwa.

About admin

Check Also

STIM Surakarta Menyelenggarakan “Seminar Nasional International Curriculum of Arabic Language for Islamic Education”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.