Home / Mimbar Dosen / ASHABIYAH PENGGIRING CELAKA;

ASHABIYAH PENGGIRING CELAKA;

Oleh : Sudarmadi Putra, M.Ud

Kebenaran bukan dilihat dari jumlah yang banyak pengikutnya, maupun sebaliknya. Tetapi kebenaran itu adalah yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.  Sebagaimana Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Orang yang berakal sehat jangan tertipu dengan kebanyakan manusia, karena kebenaran tidak ditentukan karena banyak orang yang berbuat, akan tetapi kebenaran adalah syariat Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Majmu’ Fatawa wa Maqolat Ibnu Baz: 1/231]

 Kadang kebanyakan manusia salah dalam memihak sebuah kebenaran. Bagi mereka kebenaran itu yang pengikutnya banyak, kuat, kaya dan segalanya ada. Tanpa melihat apakah kebenaran yang mereka ikuti itu sesuai dengan Dien Tauhid  atau tidak. Al-haq atau batil, benar atau salah, Kalau sudah demikian barometernya, maka mereka hanya mementingkan kelompok, jama’ahnya, nasab, suku dan rasnya saja. Bahkan sampai mengorbankan ukhuwah islamiyah. Keinginannya untuk memperturutkan hawa nafsu sangat besar. Kecondongannya untuk saling berbangga diri dan menonjolkan kelompok dan golongannya pun amat kuat. Tak heran bila Allah subhaanahu wa ta’aalaa menegur mereka dengan firman-Nya :

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Artinya : “yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka (Meninggalkan agama tauhid dan menganut berbagai kepercayaan menurut keinginan mereka.)  dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. AR-Rum : 32 )

Maka kalau sudah fanatisme golongan, disebut dengan istilah syariat dengan  العَصَبِيَّةُ (‘ashabiyah) dan التَّعَصُّبُ (ta’ashshub). Artinya mereka memihak sikap fanatik terhadap suatu golongan dengan mengajak orang lain agar membela golongannya dan bergabung bersamanya dalam rangka memusuhi lawannya baik dalam kondisi terzalimi atau menzalimi. (Lihat Lisanul ‘Arab).

Ta’ashub tidak hanya terbatas pada golongan saja. Terkadang juga terjadi terhadap mazhab, tokoh, kabilah/suku, ataupun yang lainnya. Dan ini merupakan penyakit umat saat ini. Bermula dari taklid secara membabi-buta tanpa memperhatikan nilai-nilai kebenaran yang ada, dan dasar- dasar ilmu. Kebodohan dan hawa nafsu menjadikan  Mereka puas dengan prinsipnya sebagaimana yang difirmankan Allah :

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Artinya : Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” [Az-Zukhruf/47 : 23]

Padahal Allah subhaanahu wa ta’aalaa sudah mengingatkan, jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Artinya : “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” ( QS. Al-An’am: 116 )

Dalam kitab Tafsir at-Thobari dijelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut :

قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم: لا تطع هؤلاء العادلين بالله الأنداد، يا محمد، فيما دعوك إليه من أكل ما ذبحوا لآلهتهم، وأهلُّوا به لغير ربهم، وأشكالَهم من أهل الزيغ والضلال، فإنك إن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن دين الله، ومحجة الحق والصواب، فيصدُّوك عن ذلك

Artinya : Imam Abu Ja’far at-Thobari rahimahullah berkata: “Allah azza wa jalla menjelaskan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: Wahai Muhammad, janganlah kamu taat kepada orang yang berpaling dari agama Allah, karena mereka mengajak kamu mengikuti sesembahan mereka. Jangan kamu taati mereka ketika mengajak kamu agar makan sesembelihan yang disajikan untuk tuhan-tuhan mereka, dan yang disembelih dengan menyebut nama tuhan mereka, dan jangan kamu taati perbuatan mereka yang tersesat. Jika kamu taat kepada umumnya manusia di permukaan bumi ini, pasti mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah yang benar dan menghalangi kamu dari yang benar juga.

Betapa banyak orang yang dalam beragama hanya taqlid buta kepada tokoh-tokoh, entah disebut kiai, ajengan, habib, cendikiawan, ustadz, rois, syaikh, dsb. Mereka menjalani hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam dengan dalih sekedar berprasangka bahwa tokoh-tokoh mereka itu tidak akan salah, tidak akan keliru dan tidak akan berdusta. Hanya karena kedangkalan ilmu agama maka manusia banyak tertipu oleh kelompok mayoritas, padahal jika manusia mengetahui tabiat manusia yang jelek pasti mereka menyesal mengikuti mereka.

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengingatkan tentang bahaya dan ancaman bagi siapa saja yang berta’ashub pada kelompoknya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ رِيَاحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَخَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ فَمَاتَ فَمِيتَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي بِسَيْفِهِ يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا لَا يُحَاشِي مُؤْمِنًا لِإِيمَانِهِ وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ بِعَهْدِهِ فَلَيْسَ مِنْ أُمَّتِي وَمَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِلْعَصَبِيَّةِ أَوْ يُقَاتِلُ لِلْعَصَبِيَّةِ أَوْ يَدْعُو إِلَى الْعَصَبِيَّةِ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Ghoilan bin Jarir dari Ziyad bin Riyah dari Abu Hurairah, dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Barangsiapa memisahkan diri dari jama’ah dan keluar dari ketaatan lalu mati maka matinya adalah seperti orang jahilliyah. Dan barangsiapa memberantak umatku, membunuh yang baik dan yang fajir, tidak peduli dengan yang mukmin serta tidak melindungi orang yang berada di bawah perjanjian maka dia bukan dari umatku. Dan barangsiapa berperang di bawah bendera yang tidak jelas (selain bendera Islam), marah karena golongan, berperang karena fanatik golongan dan menyeru kepada golongan, maka kematiannya seperti mati dalam jahiliyah.” (HR.Ahmad )

Dikuatkan dengan hadis lain yang diriwayatkan abu Daud :

حَدَّثَنَا مُحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْفِرْيَابِيُّ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ بِشْرٍ الدِّمَشْقِيُّ عَنْ بِنْتِ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّهَا سَمِعَتْ أَبَاهَا يَقُولُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khalid Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Firyabi berkata, telah menceritakan kepada kami Salamah bin Bisyr Ad Dimasyqi dari Bintu Watsilah Ibnul Asqa’ Bahwasanya ia pernah mendengar Bapaknya berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, Ashabiyah (fanatik kesukuan) itu apa?” beliau menjawab: “Engkau tolong kaummu dalam kezhaliman.”

Sikap seseorang untuk membela keluarga, kelompok, golongan, suku, ras, dan seterusnya tidak peduli mereka semua itu  zalim maupun tidak, salah atau melanggar batasan-batasan syariat, dari siapapun yang menyerang mereka. Lalu mereka membela mati-matian bahkan berbangga dalam kesalahan.  Sikap seperti itulah yang dilarang. Dan itulah yang dinamakan dengan ashabiyah yang sebenarnya.. Kebenaran tidak bersama abu thalib walaupun dia adalah kerabat Rasulullah saw. Kebenaran tidak bersama dengan kebatilan dan kezaliman.

Ketahuilah bahwa munculnya ashabiyah ini karena tingginya rasa kesombongan pada diri mereka dengan merasa lebih dari selain mereka. Sehingga menjadilah ia sebagai penghalang bagi mereka untuk menerima kebenaran dari pihak lain.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda :

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya : Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar serta Ibrahim bin Dinar semuanya dari Yahya bin Hammad, Ibnu al-Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail al-Fuqaimi dari Ibrahim an-Nakha’i dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.“( HR. Muslim )

Sebagai penutup mari kita perhatikan nasehat dari Salafus saleh, Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

عليك بطريق الحق ولا تستوحش لقلة السالكين و إياك و طريق الباطل ولا تغتر بكثرة الهالكين

Artinya : Ikutilah jalan-jalan petunjuk dan tidak akan merugikanmu meskipun sedikit orang yang menempuhnya. Sebaliknya jauhilah jalan-jalan kesesatan dan jangan tertipu dengan banyaknya orang-orang yang celaka di dalamnya ( Al-I’tisham 1/ 112 )

Wallahu a’lamu bish shawab

Penulis : Oleh : Sudarmadi Putra, M.Ud

About admin

Check Also

One Day One Nasihat from Mudir STIM #17

أنجى ما ينجيك من عذاب الله عز وجل هو ذكر الله فعليك بالذكر دائما والإنسان …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://sshj.in/public/slot-deposit-dana/https://mbmscience.com/public/slot88/situs slot gacorhttps://peshawarhighcourt.gov.pk/slot-gacor/https://www.doutoresdoexcel.com.br/-/slot-gacor/https://mccm.ptcer.pl/slot-demo/https://academconsult.ru/slot-gacor/https://nje.org.na/slot-deposit-dana/https://journals.tma.uz/slot-gacor/https://muru.com.co/slot-deposit-pulsa/https://coresdaterra.com.br/slot-gacor/https://sasurie.com/slot-gacor/https://thejrns.org/slot-gacor/http://a0729171.xsph.ru/https://zombiigrice.com/slot-gacor/https://ijohmn.com/public/slot-gacor/https://www.kuhoo.com/wp-content/uploads/slot-deposit-dana/http://clc.cet.edu/judi-bola/https://www.ijmaberjournal.org/slot-gacor/https://ijorces.org/slot-gacor/https://virtusclean.com/slot-online/https://modernacademy-journal.synceg.net/slot-gacor/https://artescienza.org/wp-content/uploads/slot-gacor/https://journal.icter.org/public/slot-gacor/https://rumosdainformacao.ivc.br/5unsur3/https://dailyexpresstop.com/https://livepublicnews.com/https://cosy.univrab.ac.id/slot-online/https://www.unaki.ac.id/togel88/